Rabu, 14 Maret 2012

Efek Antikonvulsi


EFEK ANTIKONVULSI

I.                   TUJUAN PERCOBAAN
Mengetahui efek obat terhadap konvulsi pada hewan yang diberi striknin atau pentetrazol, berdasarkan pengamatan waktu timbulnya dan lamanya konvulsi.

II.                TEORI PERCOBAAN
Antikonvulsi digunakan terutama untuk mencegah dan mengobati bangkitan epilepsy (epileptic seizure). Golongan obat ini lebih tepat dinamakan antiepilepsi;  sebab obat ini jarang digunakan untuk gejala konvulsi penyakit lain. Bromida, obat pertama yang digunakan untuk terapi epilepsy telah ditinggalkan karena ditemukannya berbagai antiepilepsi baru yang lebih efektif. Fenobarbital diketahui memiliki efek antikonvulsi spesifik, yang berarti efek antikonvulsinya tidak berkaitan langsung dengan efek hipnotiknya. Di Indonesia fenobarbital ternyata masih digunakan, walaupun di luar negeri obat ini mulai banyak ditinggalkan. Fenitoin (difenilhidatoin), sampai saat ini masih tetap merupakan obat utama antiepilepsi. Di samping itu karbamazepin yang relative lebih baru makin banyak digunakan, karena dibandingkan dengan fenobarbital pengaruhnya terhadap perubahan tingkah laku maupun kemampuan kognitif lebih kecil.
Epilepsi
Epilepsi adalah nama umum untuk sekelompok gangguan atau penyakit susunan saraf pusat yang timbul spontan dengan episode singkat (disebut bangkitan atau seizure); dengan gejala utama kesadaran menurun sampai hilang. Bangkitan ini biasanya disertai kejang (konvulsi), hiperaktivitas otonomik, gangguan sensorik atau psikis dan selalu disertai gambaran letupan EEG abnormal dan eksesif. Berdasarkan gambaran EEG, epilepsi dapat dinamakan disritmia serebral yang bersifat paroksismal.
Epilepsi dapat dibagi 3 golongan yaitu :
             I.      Bangkitan umum (epilepsy umum) yang terdiri dari :
1.      Bangkitan tonik-klonik (epilepsy grand mal)
2.      - Bangkitan lena (epilepsy petit mal atau absences )
- Bangkitan lena tidak khas (atypical absences)
3.      Bangkitan mioklonik (epilepsy mioklonik)
4.      Bangkitan klonik
5.      Bangkitan tonik
6.      Bangkitan atonik
7.      Bangkitan infantile (spasme infantil)
          II.      Bangkitan parsial atau fokal atau lokal (epilepsy parsial atau fokal)
1.      Bangkitan parsial sederhana
2.      Bangkitan parsial kompleks
3.      Bangkitan parsial yang berkembang menjadi bangkitan umum misalnya bangkitan tonik-klonik, bangkitan tonik atau bangkitan klonik saja
       III.      Bangkitan-bangkitan lain-lain (tidak termasuk golongan I atau II)

Mekanisme terjadinya bangkitan epilepsy
Pada focus epilepsy di korteks serebri terjadi letupan yang timbul kadang-kadang , secara tiba-tiba , berlebihan dan cepat; letupan ini menjadi bangkitan umum bila neuron normal disekitarnya terkena pengaruh letupan tersebut.

Mekanisme kerja antiepilepsi
Terdapat 2 mekanisme antikonvulsi yang penting yaitu :
1.      dengan mencegah timbulnya letupan depolarisasi eksesif pada neuron epileptic dalam focus epilepsy
2.      dengan mencegah terjadinya letupan depolarisasi pada neuron normal akibat pengaruh dari focus epilepsy. Bagian terbesar antiepilepsi yang dikenal termasuk dalam golongan terakhir ini.
Mekanisme kerja antiepilepsi hanya sedikit yang dimengerti secara baik. Berbagai obat antiepilepsi diketahui mempengaruhi berbagai fungsi neurofisiologik otak, terutama yang mempengaruhi system inhibisi yang melibatkan GABA dalam mekanisme kerja berbagai antiepilepsi.

Efek Antidiare


EFEK ANTIDIARE
I.       PRINSIP
Metode proteksi terhadap diare yang diinduksi oleh oleum ricini
II.    TUJUAN PERCOBAAN
Setelah melakukan percobaan ini, mahasiswa diharapkan mengetahui sejauhmana aktivitas obat antidiare dapat menghambat diare yang disebabkan oleh oleum ricini pada hewan percobaan.
III. TEORI DASAR
Diare ditandai dengan frekuensi defekasi yang jauh melebihi frekuensi normal, serta konsistensi feses yang encer. Diare dapat bersifat akut dan kronis. Penyebab diare pun bermacam-macam.
Diare akut dapat disebabkan oleh infeksi bakteri seperti E. Coli, Shigella, Salmonella, dan V. Cholera, virus dan amuba seperti E. Histolytica, dan Giardia lambia. Selain itu dapat pula disebabkan oleh toksin bakteri seperti staphylococcus aureus, dan Clostridium welchii yang mencemari makanan.
Diare kronis mungkin berkaitan dengan berbagai gangguan dengan berbagai gangguan gastrointestinal, ada pula diare yang berlatar belakang psikosomatik, alergi oleh makanan atau obat-obat tertentu, disamping itu diare kronis ini dapat disebabkan oleh kelainan pada sistem endokrin dan metabolisme, kekurangan vitamin dan sebagai akibat radiasi.
Diare yang berkepanjangan sangat melemahkan penderitanya karena tubuh kehilangan banyak energi cairan elektrolit tubuh, sehingga memerlukan terapi pengganti dengan cairan dan elektrolit serta kalori, obat antibakteri atau antiamuba, bergantung pada penyebab diare tersebut, ataupun obat-obat lain yang bekerja memperlambat peristaltik usus, menghilangkan spasme dan nyeri, dan menenangkan.
 

Penggolongan Obat Diare

  1. Kemoteurapetika
Untuk terapi kausal, yaitu memberantas bakteri penyebab diare dengan antibiotika, sulfonamida, furazolidin, dan kliokonol.
  1.  Obstipansia
 Untuk pengobatan simtomatis yang dapat mengentikan diare dengan cara:
1. Zat penekan peristaltik usus: Candu dan alkaloidnya, derivat petidin   (definoksilat dan loperamid) dan antikolinergik (atropin, ekstrak belladone)
2.  Adstringensia: Zat yang dapat mencioutkan selaput lendir usus, misalnya tanalbumin, garam-garam bismut dan alumunium.
3.  Adsorbensia: Zat yang dapat menyerap pada permukaannyazat-zat racun yang dihasilkan oleh bakteri (toksin) atau yang berasal dari makanan, misalnya karbon, mucilage, kaolin, pectin, garam-garam bismut dan garam alumunium.
4.        Spasmolitika
Obat yang dapat menghilangkan kejang-kejang.

LOPERAMIDA (IMODIUM,Jansen)
Merupakan derivat defenoksilat dan haloperidol (suatu neuroleptikum). Khasiat obstipasinya 2-3 kali lebih kuat tanpa khasiat terhadap sistem saraf pusat, jadi tidak menyebabkan adiksi, habituasi, dan toleransi.
Mulai kerjanya cepat dan masa kerjanya panjang.
Efek samping: Tidak terjadi tapi pada anak-anakdibawah 2 tahun tidak boleh diberikan karena akan terjadi penekanan peristaltik usus kuat sehingga timbul konstipasi.
Dosis: Diare akut, permulaan 2 tablet berisi 2 mg, lalu 2 jam 1 tablet sampai maksimum 8 tablet sehari.
Anak-anak 2-8 tahun : 2-3 kali sehari 0,1 mg/kg BB
Anak-anak 8-12 tahun : pertama 2 mg, maksimal 8-12 mg sehari.

IV.  BAHAN DAN ALAT
Hewan Percobaan :  Mencit putih jantan dengan berat badan antara 20-25 gram. Hewan yang digunakan untuk percobaan memiliki feses normal.
Bahan                    :  -    Loperamid HCl (0,24 mg/ml) dan (0,48 mg/ml)
-          Oleum ricini
-          Kertas saring
       Alat                       : -    Alat suntik 1 ml
-          Sonde oral mencit
-          Stopwatch
-          Timbangan mencit
-          Bejana silinder

V.    PROSEDUR
1.      Bobot mencit ditimbang, dikelompokkan secara acak menjadi 3 kelompok, yaitu kelompok kontrol yang hanya diberi oleum ricini, kelompok uji loperamid dosis 1 dan dosis 2, masing-masing kelompok terdiri dari 4-5 ekor mencit.
2.      Dua jam sebelum percobaan dimulai mencit dipuasakan.
3.      Sesuai dengan perlakuan yang akan dialaminya tiap mencit diberi peroral 0,75 ml/20 g sediaan uji dan kemudian ditempatkan dalam bejana individual beralaskan kertas saring untuk pengamatan.
4.      Satu jam setelah perlakuan pada butir 3, semua mencit diberi peroral 0,75 ml oleum ricini.
5.      Respon yang terjadi pada setiap mencit diamati selang 30 menit sampai 4 jam, setelah pemberian oleum ricini.
6.      Parameter yang diamati yaitu waktu muncul diare, frekuensi konsistensi diare dan jumlah bobot feses serta jangka waktu berlangsung diare.
7.      Hasil-hasil pengamatan disajikan dalam tabel dan buatkan grafiknya.
8.      Evaluasi hasil pengamatan pada ketiga kelompok hewan untuk waktu muncul diare, bobot feses dievaluasi masing-masing secara statistik dengan metode anava dan student T. 

VI.       DATA PENGAMATAN
Tabel 1. Berat feses  mencit setiap waktu 30 menit selama 240 menit pada uji Antidiare

Perlakuan
0’
30’
60’
90’
120’
Kontrol
-
-
-
-
-
-
-
++
+
-
-
-
-
-
-
-
++
-
-
-
-
-
-
-
-
Jumlah





Rata-rata






Uji I
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
++
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
Jumlah





Rata-rata





Uji II
-
-
-
-
-
-
+
+
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
-
+++
-
-
-
-
-
Jumlah





Rata-rata





Keterangan:  -        : tidak ada feses
                     +       : feses normal
                     ++    : feses lembek
                     +++ : feses cair
GRAFIK


VII.          PERHITUNGAN

0’
30’
60’
90’
120’
150’
180’
210’
240’
Jml Perlakuan
Jml kuadrat Perlakuan
Kontrol
0
0
0
0,04
0,19
0,135
0,03
0,0725
0,02
0,4875
0,062
Dosis 1
0
0
0
0
0
0
0,38
0,42
0,10
0,9
0,331
Dosis 2
0
0
0
0,04
0
0,046
0
0
0
0,086
0,037
Jml blok
0
0
0
0,08
0,19
0,181
0,41
0,4925
0,12
1,.4735

Jml kuadrat blok
0
0
0
0,0032
0,0361
0,02
0,1453
0,18
0,0104

0,4
Fk = 1,4375 2/ 9x3 = 0,08
JKp = 0,4875 2 + 0,9 2 + 0,086 2 /9 – 0,08 = 0,037
JKb = 0,08 2 + 0,19 2 + 0,181 2 + 0,41 2 + 0,4925 2 + 0,12 2 /3 –0,08 = 0,087
Jktot = 0,4 – 0.08 = 0,32
JKG = 0,32 – 0,037 – 0,087 = 0,196

Tabel ANAVA

Asumsi  Ho   =   Tidak terdapat perbedaan efek
                     Hi   =   Terdapat Perbedaan efek

Sumber Variasi
JK
df
Rjk
F
Blok ( waktu )
0,087
8
0,01
0,048
Perlakuan
0,037
2
0,0185
0,089
Galat
0,196
16
0,208

Total
0,4
26



F hitung ( 0,048 ) < F (8,16); 3,62
F hitung (0,089)   < F (2,16);2,69
Kesimpulan:                                                                                                                  
     Ho ditolak untuk blok karena Fhit<Fsebenar adanya perbedaan efek dengan semakin panjangnya waktu.
Ho ditolak untuk perlakuan, oleh karena itu terdapat perbedaan efek pada ketiga perlakuan diatas.

VIII.  PEMBAHASAN
  1. Pemberian oleum ricini pada mencit dapat menyebabkan diare karena oleum ricini  mengandung kandungan trigliserida asam risinolat yang dihidrolisis didalam usus halus oleh lioase pankreas menjadi gliserin dan asam risinolat sebagai cairan dan elektrolit serta menstimulasi peristaltik usus.
  2. Loperamid HCl berkhasiat sebagi obat antidiare dengan bekerja memperlambat proses peristaltik usus sehingga mengurangi frekuensi defekasi dan memperbaiki konsistensi feses.
  3. Berdasarkan hasil percobaan Loperamid HCl dosis I (0,24 mg/ml) dapat memperlambat peristaltik usus, namun tidak dapat dibuktikan secara jelas..
  4. Loperamid HCl dosis 2 (0,48 mg/ml) lebih efektif dalam memperlambat proses peristaltik usus, karena feses yang dikeluarkan oleh mencit sangat sedikit.
IX.   KESIMPULAN
  1. Oleum Ricini dapat menyebabkan diare dengan cara menstimulasi peristaltik usus.
  2. Loperamid HCl berkhasiat sebagai obat antidiare dengan cara bekerja menekan peristaltik usus sehingga mengurangi frekuensi defekasi dan memperbaiki konsis tensi feses.
 
DAFTAR PUSTAKA

Sjarif Amir. 1995.Farmakologi dan Terapi.edisi 4.Bagian Farmakologi FKUI. Jakarta. Hal. 537-544..
Widjajanti. Nuraini V. Dra.2002. Obat-obatan. Cetakan ke-10 Penerbit Kanisius Yogyakarta.