EFEK ANTI DEPRESI
I.
TUJUAN PERCOBAAN
Menegetahui sampai sejauh mana
aktivitas obat anti depresi pada hewan percobaan.
II.
TEORI PERCOBAAN
\ Pada manusia system saraf, khususnya otak mempunyai kemampuan fungsi
yang jauh lebih berkembang dari siatem saraf pada mahluk lain. Fungsi
sistemsaraf adalah :
·
Menerima rangsangan dari
lingkungan atau dari dalam tubuh sendiri
·
Mengubah, memproses dan
menghantar rangsangan-rangsangan, serta
·
Mengkoordinasikan dan mengatur
fungsi-fungsi tubuh melalui impuls-impuls yang dibebaskan dari pusat ke
perifer.
Dalam system saraf pusat berlangsung semua proses-proses
kejiwaan dan psikis.
Obat-obat
dapat mempengaruhi susunan saraf pusat (SSP) dengan merangsang (stimulasi) atau
menekan (depresi), dan ada pula obat yang dapat menekan sesuatu fungsi
sekaligus merangsang fungsi yang lain (seperti opiate yang menekan pusat
pernapasan, tetapi merangsang pusat muntah). Efek obat-obat tergantung pada
jenis dan sensitivitas reseptor yang dipengaruhinya.
Obat anti depresi dibagi :
A.
PENGHAMBAT MAO (isokarboksazid,
nialamid, fenelzin)
B. SENYAWA DIBENZAZZEPIN
(imipramin, desmetilimipramin, amitriptilin, desmetilamitriptilin)
C.
Lain-lain (nomifensin,
mianserin, maprotilin).
Imipramin (derivate dibenzazepin) dan
amitriptilin (derivate dibenzodiklo heptadin) digunakan pengganti penghambat
MAO, mengurangai depresi endogen. Perbaikan dalam bentuk mood ( perasaan, bertambahnya aktiviras fisik, kewaspadaan mental,
perbaikan nafsu makan, pola tidur lebih baik, berkurangnya pikiran bunuh diri.
Tidak menimbulkan euphoria pada orang normal.
Bekerja menghambat reuptake neurotarnsmitor di otak.
Berbagai antidepresi trisiklik berbeda dalam potensi dan selektivitas hambatan reuptake neurotransmitter, yaitu
norepinedrin, dan amin tersier
menghambat reuptake serotonin.
Farmakodinamik terhadap kejiwaan
ialah elevasi mood. Mekanisme tidak
jelas. Bersifat antimuskarinik pada SS Otonom sehingga penglihatan kabur, mulut
kering, obstipasi dan retensi urin. Sering menimbulkan hipotensi ortostatik,
bahkan infark jantung dan presipitasi gagal jantung.
Efek samping dibenzazepin mirip efek
samping atropine. Waspada untuk pemderita glaucoma atau hipertrofi prostate.
Dapat menimbulkan lemah lelah seperti efek fenotiazin. Usia lanjut dapat
pusing, hipotensi postural, sembelit, sukar kencing, edema, tremor.
Imipramin serupa fenotiazin
menimbulkan ikterus kolestatik, agranulositos. Toksik akut ditandai
hiperpireksia, hipertensi, konvulsi dan koma.
Untuk menghadapi depresi ringan
diberikan psikoterapi. Jika lebih hebat dan terdapat bahaya bunuh diri, terapi
cepat dengan ECT, atau psikofarmaka antidepresi trisiklik. Depresi yang
menyertai penyakit penyakit somatic kronik dan psikoneurosis dengan
klordizekposid dan psikoterapi.
Dikenal pula generasi kedua yaitu amoksapin dan trazodon. Obat ini hanya
menghambat serotonin. Tidak berfungsi untuk dopamine re-uptake.
III.
BAHAN DAN ALAT
hewan:
Mencit putih, Swiss Webster, sehat.
Bahan :
-
Suspensi PGA
-
Bahan Obat ( Amitriptilin)
Alat :
-
Jarum suntik
-
Tabung gelas panjang 20 cm
diameter 10 cm
-
Timbangan mencit
IV.
PROSEDUR
1.
Dalam percobaan ini digunakan
alat berupa tabung silinder gelas ( tinggi : 20 cm, diameter : 10 cm) yang
berisi air denga ketinggian sekitar 8 cm pada suhu 25oC.
2.
Sehari sebelum percobaan,
setiap mencit dimasukan ke dalam tabung silinder tersebut selama 5 menit dan
dibiarkan berenang untuk mengadaptasikan disri dengan lingkungan.
3.
Pada hari berikutnya, tes
berenang dilakukan terhadap mencit dengan perlakuan sebagai berikut:
- Mencit dibagi ke dalam kelompok control dan kelompok uji.
- Mencit diberi lar.suspensi PGA (untuk kelompok control) atau bahan uji (untuk kelompok uji ) secara intraperitonial, dan 1 jam kemudian mencit dimasukan ke dalam tabung silinder yang berisi air. Mencit akan berenang secara aktif.
- Dalam saat-saat tertentu mencit akan menunjukan sikap yang pasif, sama sekali tidak bergerak menunjukan bahwa mencit tersebut mengalami keputusasaan yang dianggap menyerupai keadaan derpesi.
4. Pada saat itu, lamanya mencit
tidak bergerak dicatat setiap 5 menit selama waktu pengematan 15 menit.
5.
Data dianalisis berdasarkan
analisis varians dan untuk mengetahui perbedaan yang bermakna antara perlakuan
bahan uji dan control data dianalisis dengan student’s test
6.
Data disajikan dalam bentuk tabel
atau grafik.
Hasil Pengamatan
Kelompok |
T = 0
|
T = 1 jam |
|
Kontrol
|
Suspensi PGA p.o
|
Masukkan dalam tabung
Berenang
|
|
Uji I
|
Amitriptilin p.o
|
|
|
Uji II
|
Amitriptilin p.o
|
Kelompok |
Lama tak bergerak (detik)
|
Jumlah
|
||
|
5’
|
10’
|
15’
|
||
|
Kontrol
1
2
3
|
52
99
21
|
145
174
90
|
328
300
187
|
525
573
298
|
|
Rata-rata
|
57,33
|
136,33
|
271,67
|
465,33
|
|
Uji I 1
2
3
|
59
75
9
|
204
210
80
|
254
159
126
|
517
444
215
|
|
Rata-rata
|
47,67
|
164,67
|
179,67
|
392
|
|
Uji II 1
2
3
|
0
0
15
|
9
133
43
|
2
226
68
|
11
359
126
|
|
Rata-rata
|
5
|
61,67
|
98,67
|
165,33
|
GRAFIK

![]() |
% Penghambatan
untuk uji I = 100 % -
x 100 %
= 100 % -
x 100 %
= 14,097 %
% Penghambatan
untuk uji II = 100% -
x 100 %
=
100 % -
x 100 %
=
63,77 %

Tidak ada komentar:
Posting Komentar