Rabu, 14 Maret 2012

Efek Anti Depresi


EFEK ANTI DEPRESI
 
I.                   TUJUAN PERCOBAAN
Menegetahui sampai sejauh mana aktivitas obat anti depresi pada hewan percobaan.
II.                TEORI PERCOBAAN
\            Pada manusia system saraf, khususnya otak mempunyai kemampuan fungsi yang jauh lebih berkembang dari siatem saraf pada mahluk lain. Fungsi sistemsaraf adalah :
·         Menerima rangsangan dari lingkungan atau dari dalam tubuh sendiri
·         Mengubah, memproses dan menghantar rangsangan-rangsangan, serta
·         Mengkoordinasikan dan mengatur fungsi-fungsi tubuh melalui impuls-impuls yang dibebaskan dari pusat ke perifer.
Dalam system saraf pusat berlangsung semua proses-proses kejiwaan dan psikis.
        Obat-obat dapat mempengaruhi susunan saraf pusat (SSP) dengan merangsang (stimulasi) atau menekan (depresi), dan ada pula obat yang dapat menekan sesuatu fungsi sekaligus merangsang fungsi yang lain (seperti opiate yang menekan pusat pernapasan, tetapi merangsang pusat muntah). Efek obat-obat tergantung pada jenis dan sensitivitas reseptor yang dipengaruhinya.
Obat anti depresi dibagi :
A.    PENGHAMBAT MAO (isokarboksazid, nialamid, fenelzin)
B. SENYAWA DIBENZAZZEPIN (imipramin, desmetilimipramin, amitriptilin, desmetilamitriptilin)
C.     Lain-lain (nomifensin, mianserin, maprotilin).
Imipramin (derivate dibenzazepin) dan amitriptilin (derivate dibenzodiklo heptadin) digunakan pengganti penghambat MAO, mengurangai depresi endogen. Perbaikan dalam bentuk mood ( perasaan, bertambahnya aktiviras fisik, kewaspadaan mental, perbaikan nafsu makan, pola tidur lebih baik, berkurangnya pikiran bunuh diri. Tidak menimbulkan euphoria pada orang normal.
Bekerja menghambat reuptake neurotarnsmitor di otak. Berbagai antidepresi trisiklik berbeda dalam potensi dan selektivitas hambatan reuptake neurotransmitter, yaitu norepinedrin, dan  amin tersier menghambat reuptake serotonin.
Farmakodinamik terhadap kejiwaan ialah elevasi mood. Mekanisme tidak jelas. Bersifat antimuskarinik pada SS Otonom sehingga penglihatan kabur, mulut kering, obstipasi dan retensi urin. Sering menimbulkan hipotensi ortostatik, bahkan infark jantung dan presipitasi gagal jantung.
Efek samping dibenzazepin mirip efek samping atropine. Waspada untuk pemderita glaucoma atau hipertrofi prostate. Dapat menimbulkan lemah lelah seperti efek fenotiazin. Usia lanjut dapat pusing, hipotensi postural, sembelit, sukar kencing, edema, tremor.
Imipramin serupa fenotiazin menimbulkan ikterus kolestatik, agranulositos. Toksik akut ditandai hiperpireksia, hipertensi, konvulsi dan koma.
Untuk menghadapi depresi ringan diberikan psikoterapi. Jika lebih hebat dan terdapat bahaya bunuh diri, terapi cepat dengan ECT, atau psikofarmaka antidepresi trisiklik. Depresi yang menyertai penyakit penyakit somatic kronik dan psikoneurosis dengan klordizekposid dan psikoterapi.
Dikenal pula generasi kedua yaitu amoksapin dan trazodon. Obat ini hanya menghambat serotonin. Tidak berfungsi untuk dopamine re-uptake.

III.             BAHAN DAN ALAT
hewan:
Mencit putih, Swiss Webster, sehat.
Bahan :
-          Suspensi PGA
-          Bahan Obat ( Amitriptilin)
Alat :
-          Jarum suntik
-          Tabung gelas panjang 20 cm diameter 10 cm
-          Timbangan mencit
IV.             PROSEDUR
1.      Dalam percobaan ini digunakan alat berupa tabung silinder gelas ( tinggi : 20 cm, diameter : 10 cm) yang berisi air denga ketinggian sekitar 8 cm pada suhu 25oC.
2.      Sehari sebelum percobaan, setiap mencit dimasukan ke dalam tabung silinder tersebut selama 5 menit dan dibiarkan berenang untuk mengadaptasikan disri dengan lingkungan.
3.      Pada hari berikutnya, tes berenang dilakukan terhadap mencit dengan perlakuan sebagai berikut:
    • Mencit dibagi ke dalam kelompok control dan kelompok uji.
    • Mencit diberi lar.suspensi PGA (untuk kelompok control) atau bahan uji (untuk kelompok uji ) secara intraperitonial, dan 1 jam kemudian mencit dimasukan ke dalam tabung silinder yang berisi air. Mencit akan berenang secara aktif.
    • Dalam saat-saat tertentu mencit akan menunjukan sikap yang pasif, sama sekali tidak bergerak menunjukan bahwa mencit tersebut mengalami keputusasaan yang dianggap menyerupai keadaan derpesi.
4.     Pada saat itu, lamanya mencit tidak bergerak dicatat setiap 5 menit selama waktu pengematan 15 menit.
5.   Data dianalisis berdasarkan analisis varians dan untuk mengetahui perbedaan yang bermakna antara perlakuan bahan uji dan control data dianalisis dengan student’s test
6.      Data disajikan dalam bentuk tabel atau grafik.


Hasil Pengamatan


Kelompok

T = 0

T = 1 jam

Kontrol
Suspensi PGA   p.o
Masukkan dalam tabung
Berenang
Uji I
Amitriptilin  p.o
Uji II
Amitriptilin  p.o



Kelompok

Lama tak bergerak (detik)
Jumlah
5’
10’
15’
Kontrol   1
               2
               3
52
99
21
145
174
90
328
300
187
525
573
298
Rata-rata
57,33
136,33
271,67
465,33
Uji I        1
               2
               3
59
75
9
204
210
80
254
159
126
517
444
215
Rata-rata
47,67
164,67
179,67
392
Uji II      1
               2
               3
0
0
15
9
133
43
2
226
68
11
359
126
Rata-rata
5
61,67
98,67
165,33



GRAFIK       
                       

                                                                                                                                                           





 
 % Penghambatan untuk uji I    = 100 % -   x 100 %
                                               = 100 % -  x 100 %
                                               =  14,097 %

% Penghambatan untuk uji II             =  100% -   x 100 %
                                                = 100 % -   x 100 %
                                                = 63,77 %







Tidak ada komentar:

Posting Komentar